PARIMO, LENSA JURNAL – Dua peserta utusan Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kabupaten Parigi Moutong, dinyatakan lulus dalam pelatihan wasit berlisensi C yang digelar Perbasi Provinsi Sulawesi Tengah bersama Perbasi Kota Palu.
Keberhasilan kedua peserta pada pelatihan yang berlangsung mulai 13-16 Agustus 2026 di Kantor KONI Provinsi Sulawesi Tengah tersebut, menjadi langkah penting bagi Perbasi Parigi Moutong dalam menyiapkan perangkat pertandingan sekaligus memperkuat pembinaan olahraga basket di daerah.
“Masing-masing kedua peserta itu merupakan putra dan putri terbaik Parigi Moutong, yaitu James Christian dan Indri Novitasari. Alhamdulillah, mereka berdua dinyatakan lulus oleh Perbasi Provinsi selaku pelaksana,” ungkap Sekretaris Perbasi Parigi Moutong, Tri Fadli di Parigi, Kamis (20/8/2026).
Fadli mengatakan, keikutsertaan James Christian dan Indri Novitasari merupakan bagian dari upaya pihaknya dalam meningkatkan sumber daya manusia, khususnya untuk mendukung perkembangan cabang olahraga basket daerah.
Menurutnya, selama ini belum terdapat wasit berlisensi yang terdaftar dan berdomisili di wilayah Parigi Moutong. Kondisi tersebut membuat Perbasi harus mendatangkan wasit dari luar daerah setiap kali menggelar pertandingan atau turnamen.
“Setiap kali menggelar pertandingan, Perbasi Parigi Moutong membutuhkan wasit dari luar daerah dengan biaya yang cukup besar. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan kompetisi basket secara rutin. Olehnya, dengan adanya wasit lokal berlisensi, kami telah memiliki perangkat pertandingan yang dapat mendukung pelaksanaan kompetisi di daerah,” ujarnya.
Fadli menuturkan bahwa kehadiran wasit lokal diharapkan dapat membuka peluang bagi Perbasi, untuk lebih sering menggelar pertandingan maupun turnamen sebagai bagian dari pembinaan atlet.
Selain itu, dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem olahraga basket yang lebih kuat di wilayah Kabupaten Parigi Moutong.
“Kami berharap dengan adanya wasit lokal, kegiatan pertandingan basket bisa semakin sering dilaksanakan. Sehingga semangat sportivitas anak-anak juga semakin tumbuh. Ke depan, dengan dukungan wasit, pelatih, atlet, dan kompetisi yang berkelanjutan, pembinaan diharapkan mampu melahirkan atlet berprestasi yang membawa nama daerah di tingkat provinsi hingga nasional,” imbuhnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa perkembangan basket di Parigi Moutong belum sepenuhnya merata. Sebab, kegiatan dan pembinaan atlet basket saat ini masih aktif di beberapa kecamatan.
Untuk itu, kata dia, Perbasi Parigi Moutong terus berupaya memperluas pembinaan. Tujuannya agar olahraga basket tidak hanya berkembang di wilayah tertentu, tetapi dapat menjangkau lebih banyak kecamatan hingga ke desa.
Menurutnya, potensi basket di Parigi Moutong cukup besar jika pembinaan dilakukan secara konsisten. Namun, minat masyarakat terhadap olahraga tersebut masih perlu terus didorong melalui kegiatan yang rutin dan terbuka.
Fadli pun mengajak seluruh masyarakat terutam pelajar, untuk menghilangkan anggapan bahwa basket merupakan olahraga eksklusif yang hanya dapat dinikmati kelompok tertentu.
“Kami ingin menjadikan basket sebagai olahraga yang lebih dekat dan mudah diakses seluruh lapisan masyarakat. Olehnya, saya mengajak kita semua, mari bersama-sama memotivasi anak-anak untuk menumbuhkan minat terhadap olahraga basket,” pungkasnya. (AL)







