banner 728x250

Warga Kehilangan Mata Pencaharian Seluas 52,5 Hektare

Warga Kehilangan Mata Pencaharian Seluas 52,5 Hektare
Petugas gabungan bersama masyrakat tengah berupaya memadamkan api yang menghanguskan lahan pertanian milik warga Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Ahad (8/2/2026). Foto: Aid Lumpati/Lensajurnal

PARIMO, LENSA JURNAL Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menghanguskan puluhan hektare lahan pertanian milik warga. Peristiwa ini bukan hanya berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat, melainkan telah membuat para petani kehilangan sumber mata pencaharian.

Posko Terpadu Penanganan Karhutla dan Kekeringan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong mencatat, hingga Ahad (8/2/2026), total luas lahan pertanian yang terdampak karhutla di wilayah tersebut mencapai sekitar ±52,5 hektare. Data ini merupakan hasil identifikasi awal di lapangan yang telah dilakukan sejak awal Februari 2026.

banner 728x250

“Angka itu berdasarkan hasil pendataan sementara yang kami himpun melalui Posko Terpadu Karhutla dan Kekeringan. Proses verifikasi masih terus berjalan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Parigi Moutong, Rivai saat ditemui di Posko Terpadu Desa Toboli, Ahad (8/2/2026).

Berdasarkan data Tim Penanganan Hutan dan Perkebunan (TPHP) yang dirilis Posko Terpadu, sebaran lahan pertanian terdampak karhutla di Kecamatan Parigi Utara, khususnya di Dusun III Taripa Desa Avolua, mencapai sekitar 29,5 hektare.

Sementara, di Desa Toboli yang mencakup wilayah Uenggambi dan Tompo, luas lahan pertanian warga yang terdampak karhutla tercatat sekitar 23 hektare.

Rivai menjelaskan bahwa karhutla tersebut berdampak pada berbagai komoditas pertanian, baik tanaman perkebunan maupun hortikultura. Antara lain kakao, kelapa, durian, alpukat, cengkeh, mangga, pala, mente, serta cabai.

Selain tanaman produktif, sejumlah lahan dengan tanaman usia remaja serta beberapa bidang lahan berluasan cukup besar juga ikut terdampak. Namun, hingga kini total jenis komoditas beserta rincian luasannya belum teridentifikasi secara detail.

Rivai menegaskan bahwa data luas lahan dan jenis komoditas terdampak tersebut masih bersifat sementara dan belum final. Hal ini disebabkan, masih adanya beberapa lokasi yang belum memiliki keterangan pasti akibat keterbatasan akses, serta perlunya pengecekan ulang di lapangan.

Ia pun menambahkan, bahwa hasil pendataan sementara ini akan menjadi dasar awal dalam penyusunan laporan dampak karhutla terhadap sektor pertanian.

Termasuk, digunakan sebagai bahan pertimbangan Pemerintah Daerah dalam merancang langkah pemulihan serta pengusulan bantuan bagi para petani yang terdampak.

“Kami masih melakukan pendataan lanjutan dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Desa serta instansi terkait, agar data yang disusun benar-benar akurat,” pungkasnya. (AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *