banner 728x250

Sepekan Terakhir Karhutla, Pemkab Belum Miliki Data Tanaman Warga Terdampak

Sepekan Terakhir Karhutla, Pemkab Belum Miliki Data Tanaman Warga Terdampak
Wakil Bupati Parigi Moutong, H. Abdul Sahid (depan) didampingi Camat Parigi Utara, Muhtar (kiri) bersama warga Desa Uevolo melihat langsung kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan areal perkebunan, Kamis (6/2/2026). Foto: Aid Lumpati/Lensajurnal

PARIMO, LENSA JURNAL Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, selama sepekan terakhir telah menghanguskan areal seluas 147 hektare.

Meski luasan kebakaran telah terdata, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong hingga kini belum memiliki data rinci, terkait jumlah tanaman perkebunan milik warga yang terdampak akibat peristiwa tersebut.

banner 728x250

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong mencatat bahwa karhutla yang cukup parah terjadi di Desa Avolua dan Desa Toboli Kecamatan Parigi Utara serta Desa Uevolo Kecamatan Siniu.

“Kebakaran yang berlangsung selama lima hari terakhir, telah berdampak pada kawasan hutan serta lahan pertanian masyarakat. Hingga saat ini, total luasan karhutla yang berhasil dihimpun mencapai 147 hektare,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Parigi Moutong, Rivai saat ditemui di Posko Siaga Karhutla dan Kekeringan di Desa Toboli, Sabtu (7/2/2026).

Rivai menjelaskan bahwa awal kebakaran diduga kuat dipicu oleh aktivitas pembersihan kebun. Ditambah lagi, kondisi cuaca kering yang disertai semak belukar dan mudah terbakar menyebabkan api dengan cepat membesar, bahkan meluas ke area sekitarnya.

“Mayoritas titik api berasal dari pembukaan lahan, lalu meluas karena cuaca panas disertai angin kencang,” ungkapnya.

Berdasarkan infografis BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, area terdampak di Kecamatan Parigi Utara meliputi Dusun IV Desa Toboli serta Dusun I Desa Avolua dengan luas sekitar 29 hektare. Sementara di Dusun II dan Dusun III Desa Avolua, kebakaran menghanguskan sekitar 118 hektare lahan.

“Jika dijumlahkan, total luasan mencapai 147 hektare,” kata Rivai.

Ia juga menuturkan bahwa lahan yang terbakar mencakup kawasan hutan serta perkebunan warga dengan beragam komoditas. Seperti durian, kakao, kelapa, cengkeh, dan pala. Selain itu, di Kecamatan Siniu, kebakaran juga terjadi di Desa Towera, Dusun I, dengan luas terdampak sekitar 2,20 hektare yang meliputi kawasan hutan dan lahan perkebunan.

Meski jenis tanaman yang terdampak telah diketahui, Rivai mengakui pemerintah daerah belum memiliki data detail mengenai jumlah tanaman atau nilai kerugian yang dialami warga akibat karhutla tersebut. Pendataan lanjutan masih menunggu kondisi lapangan yang lebih aman.

“Untuk jumlah tanaman warga yang terdampak dan estimasi kerugiannya, saat ini masih dalam proses pendataan. Fokus kami masih pada pemadaman,” jelasnya.

Dalam penanganan karhutla, BPBD Parigi Moutong melibatkan berbagai unsur, mulai dari Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, TRC BPBD Parigi Moutong, Damkar Kabupaten dan Provinsi, Dinas PUPR, TNI, Polri, Manggala Agni, Tagana Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PMI, FPRB, MDMC, BPBPK, aparat desa, hingga masyarakat setempat.

“Upaya pemadaman masih terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyala dan meluas,” pungkas Rivai.

Berulangnya kejadian karhutla setiap musim kemarau menjadi catatan penting bagi Pemerintah Daerah. Tidak hanya terkait upaya pemadaman, tetapi juga perlunya penguatan pencegahan, pendataan dampak, serta perlindungan terhadap mata pencaharian warga yang bergantung pada sektor perkebunan. (AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *