banner 728x250

Karhutla Meluas Capai 90 Hektare

Karhutla Meluas Capai 90 Hektare
Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase (kanan) didampingi Danramil 1306-Parigi, Kapten Armed Putu Sanjaya (tengah) dan Kapolres Parigi Moutong, AKBP Dr. Hendrawan (kiri) seusai meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Uevolo Kecamatan Siniu, Kamis (5/2/2026). Foto: Aid Lumpati/Lensajurnal

PARIMO, LENSA JURNAL Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kecamatan Parigi Utara dan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kian mengkhawatirkan. Hingga kini api belum berhasil dipadamkan.

Berdasarkan laporan, karhutla di dua wilayah tersebut telah meluas hingga mencapai sekitar 90 hektare. Pemerintah Daerah bersama petugas gabungan terus melakukan upaya penanganan cepat guna mencegah kebakaran semakin meluas. Namun, kondisi medan yang terjal serta angin kencang menjadi kendala utama dalam proses pemadaman di lapangan.

banner 728x250

Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase mengatakan bahwa penanganan karhutla saat ini masih dilakukan secara manual dengan penjagaan ketat di sejumlah titik rawan. Menurutnya, kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau lokasi karena kondisi geografis yang sulit.

“Kita sudah melihat langsung di lokasi kejadian, kendaraan tidak bisa naik ke atas. Sementara api dan angin sangat kencang, sehingga setiap saat api bisa membesar dan membahayakan masyarakat,” ujar Erwin kepada wartawan usai meninjau lokasi kebakaran di Desa Euvolo, Kecamatan Siniu, Kamis (5/2/2026).

Erwin menilai situasi tersebut cukup berisiko, terutama bagi masyarakat yang terus mendekati area kebakaran untuk menyelamatkan tanaman produktif milik mereka yang terancam terbakar.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong berencana menyiapkan alat pompa air (alkon) yang akan dipasang di titik sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Air dari sumber tersebut nantinya akan ditampung dan disalurkan langsung menggunakan selang ke titik api.

“Selama ini masyarakat memadamkan api hanya menggunakan alat seadanya, seperti jerigen dan bolak-balik mengambil air. Olehnya, kita pasang alkon guna mendekatkan sumber air dan bisa diambil langsung untuk disalurkan ke titik api,” jelasnya.

Selain alkon, petugas gabungan juga menerima bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong berupa 30 unit tangki semprot (spray tank).

Bantuan tersebut, kata Erwin, akan diserahkan kepada Kepala Desa dan masyarakat setempat untuk digunakan bersama-sama dalam upaya pemadaman dan penjagaan agar api tidak kembali meluas.

“Harapan saya, jangan sampai apinya melebar. Ini adalah antisipasi awal yang kita lakukan,” tegas Erwin.

Terkait permintaan bantuan pemadaman udara kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Erwin menyebut pengajuan melalui BPBD Parigi Moutong telah disetujui, namun masih dalam proses. Untuk mempercepat realisasi bantuan, pihaknya juga mengupayakan dukungan dari DPR RI.

“Kami sudah menghubungi Pak Yanus Matindas di Komisi VIII DPR RI, dan alhamdulillah beliau bersedia membantu. Bantuan yang kami minta berupa peralatan pemadaman manual, seperti tangki semprot dan alat pelindung diri tahan panas. Kita upayakan satu sampai dua hari ini bantuan sudah bisa datang,” katanya.

Erwin juga menyampaikan bahwa opsi penggunaan helikopter pemadam kebakaran menjadi pertimbangan serius dan terus dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Namun, helikopter yang digunakan harus dilengkapi peralatan khusus untuk pemadaman udara.

“Helikopter pemadaman itu harus punya tempat penampungan air yang bisa dituang langsung dari atas. Ini terus kami koordinasikan, dan sebentar lagi saya akan melapor kembali ke Gubernur,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Erwin juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Ia pun memerintahkan camat dan kepala desa untuk segera mendata kebun warga yang terdampak, meliputi luasan lahan, kepemilikan, dan jenis tanaman.

“Insyaallah Pemerintah Daerah akan membantu masyarakat. Kasihan mereka, ada yang sampai 10 hektare lahannya terdampak, padahal tanamannya sudah siap panen. Kerugian ini tentu harus kita perhitungkan,” imbuh Erwin.

Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Parigi Moutong, luas lahan terbakar awalnya diperkirakan mencapai 45 hektare. Namun, data terbaru dari pantauan satelit milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan kebakaran telah meluas hingga sekitar 90 hektare. Data tersebut masih terus dicocokkan dan diverifikasi di lapangan.

Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait telah disiagakan di lokasi kejadian, di antaranya BPBD, Satpol PP, Damkar, serta Dinas Pertanian. Bahkan, tiga unit mobil tangki BPBD dan dua unit mobil pemadam kebakaran terus disiagakan di lapangan.

Terkait pendanaan penanganan karhutla, Erwin menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dapat menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mengantisipasi kondisi darurat.

“Untuk nilai kerugian masyarakat, hingga kini masih dalam tahap pendataan oleh petugas,” pungkasnya. (AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *