PARIMO, LENSA JURNAL – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan tersebut menyusul merebaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah itu.
Dalam kunjungan di Kantor Camat Ampibabo pada Kamis (5/2/2026), Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase bersama Wakil Bupati H. Abdul Sahid mengundang 19 Kepala Desa untuk memastikan warganya tidak membakar sampah maupun lahan di setiap kebun milik mereka.
“Upaya ini dilakukan sebagai mitigasi dini setelah kebakaran sebelumnya meluas di sejumlah wilayah, teruatama di Kecamatan Parigi Utara dan Siniu,” ujar Erwin.
Ia pun menjelaskan bahwa kunjungan ke kantor kecamatan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran yang telah lebih dulu disampaikan kepada Pemerintah Desa dan masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus dimaksudkan untuk mempertegas pentingnya sosialisasi pencegahan kebakaran.
“Kami turun ke kantor camat untuk mengimbau masyarakat. Surat sudah diedarkan, sekarang kami pertegas lagi bahwa sosialisasi ini penting, untuk mengantisipasi kejadian yang sudah terjadi di kecamatan tetangga,” ujar Erwin.
Menurutnya, mitigasi dini perlu dilakukan sebelum kebakaran terjadi. Tujuannya, agar masyarakat tidak panik dan mengetahui langkah yang harus diambil ketika muncul titik api.
“Kalau seandainya terjadi, masyarakat sudah siap. Sebelum terjadi, kita mitigasi sejak dini,” katanya.
Erwin menuturkan bahwa Pemerintah Daerah telah memerintahkan para Kepala Desa di Kabupaten Parigi Moutong agar aktif mengingatkan warganya untuk tidak melakukan pembakaran lahan, sekaligus memantau wilayah masing-masing secara berkala.
“Kami sudah perintahkan seluruh Kepala Desa untuk memberitahu warganya agar tidak membakar, menjaga wilayahnya, dan memantau setiap saat jika muncul titik api,” tuturnya.
Selain larangan membakar, Erwin menekankan pentingnya kesiapan sumber air sebagai bagian dari mitigasi awal. Olehnya, ia meminta Pemerintah Desa untuk memastikan ketersediaan titik-titik air yang dapat dimanfaatkan jika kebakaran terjadi.
“Sumber-sumber air harus diperhitungkan. Kalau terjadi kebakaran, sudah ada titik air yang bisa dipasangi alkon supaya mudah menarik air,” ucapnya.
Erwin mengakui bahwa pengalaman kebakaran sebelumnya menunjukkan lemahnya antisipasi awal. Api terlanjur meluas sehingga sulit dikendalikan, terlebih dengan kondisi geografis Parigi Moutong yang menyulitkan akses kendaraan pemadam.
“Antisipasi awal penting, supaya tidak seperti kemarin. Sudah terlanjur meluas sehingga susah mengatasinya,” katanya.
Dengan keterbatasan akses tersebut, penanganan kebakaran di Parigi Moutong masih sangat bergantung pada upaya manual dan keterlibatan masyarakat.
“Wilayah geografis kita, menjadi salah satu faktor penghambat pemadaman secara cepat dan tepat. Sehingga penanganannya harus manual. Ini butuh dukungan penuh dari masyarakat,” ujar Erwin.
Ia mencontohkan seperti Desa Towera di Kecamatan Ampibabo, sebagai wilayah yang berhasil menekan potensi kebakaran karena respons cepat masyarakat dan pemerintah desa. Berkat upaya tersebut, api berhasil dipadamkan.
Untuk itu, Erwin kembali mengimbau masyarakat agar menyiapkan peralatan sederhana, termasuk tangki air manual, sebagai langkah awal penanganan kebakaran.
“Kalau semua masyarakat turun, walaupun kecil, itu sangat berarti,” pungkasnya. (BI)









