PARIMO, LENSA JURNAL – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (SPBU) Pertamina Kelurahan Kampal, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) dapat jatah tambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi sebesar 16 ton per hari.
Pengawas Pertamina Parigi, Rivai Mohammad mengungkapkan SPBU Parigi sebelumnya mendapat kuota solar subsidi sebesar 8 ton per hari.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan luasnya wilayah, kata Rivai jumlah tersebut sudah tidak lagi mencukupi untuk melayani seluruh permintaan.
“Kondisi wilayah Parimo yang luas, banyaknya lahan pertanian, aktivitas perikanan dan transportasi yang cukup tinggi, 8 ton itu sudah tidak cukup. Setelah melakukan koordinasi dengan Pertamina Alhamdulillah disetujui menjadi 16 ton per hari,” ungkap Rivai, Selasa (6/1/2026).
Saat ini kata dia, SPBU Kampal menjadi satu-satunya SPBU di dalam Kota Parigi yang masih aktif menyalurkan solar subsidi. Tentunya, kondisi ini membuat beban distribusi solar terpusat di satu titik serta memicu antrean kendaraan.
Khususnya truk dan kendaraan angkutan barang, yang setiap hari membutuhkan pasokan solar untuk menunjang aktivitas operasional.
Rivai pun menjelaskan bahwa dari total 16 ton solar subsidi per hari tersebut, pendistribusiannya dilakukan untuk berbagai sektor sesuai kebutuhan.
Mulai dari kendaraan angkutan umum dan logistik, petani, nelayan, hingga kebutuhan darurat seperti Rumah Sakit dan Pemadam Kebakaran.
Seluruh proses penyaluran solar subsidi ini, kata ia, dilakukan secara ketat dengan menggunakan sistem QR Barcode sebagai bentuk pengawasan.
“Setiap kategori penerima solar subsidi memiliki QR Barcode masing-masing yang diterbitkan oleh dinas atau lembaga terkait,” jelas Rivai.
Ia juga menegaskan bahwa pengisian solar subsidi yang menggunakan galon atau jerigen tidak bisa dilakukan secara bebas. Setiap pengisiannya, harus disesuaikan dengan jenis QR Barcode yang dimiliki.
Untuk sektor perikanan, lanjut Rivai satu kapal penangkap ikan rata-rata membutuhkan sekitar 20 galon solar untuk sekali melaut. Dengan harga per galon mencapai sekitar Rp450 ribu. Begitu pula sektor pertanian yang membutuhkan pasokan solar untuk operasional alat dan mesin pertanian.
Rivai juga menegaskan bahwa pihak Pertamina Parigi tidak pernah menyalurkan solar subsidi ke wilayah pertambangan. Seluruh penyaluran solar, dilakukan berdasarkan data dan QR Barcode resmi yang diterbitkan oleh instansi pemerintah terkait.
“Jika ada solar subsidi yang ditemukan digunakan di wilayah pertambangan, itu bukan menjadi tanggung jawab kami. QR Barcode tersebut diterbitkan oleh dinas. Kemungkinan ada penyalahgunaan oleh oknum penerima yang bekerja sama dengan pihak lain. Hal itu berada di luar kewenangan Pertamina,” tutur Rivai.
Ia menerangkan bahwa sistem pengawasan distribusi BBM di Pertamina saat ini semakin diperketat. Setiap liter BBM yang keluar dari SPBU, otomatis tercatat dalam sistem digital Pertamina. Dengan sistem tersebut, peluang penyalahgunaan semakin kecil. Karena, seluruh transaksi dapat terpantau secara real time.
Ia menambahkan, apabila ditemukan adanya pelanggaran atau penyalahgunaan BBM subsidi, maka sanksi tegas akan diberlakukan. Sanksi tersebut dapat berupa penutupan SPBU, kewajiban mengganti kerugian, hingga sanksi administratif lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketika ditanyakan terkait kemacetan yang kerap terjadi akibat antrean panjang truk di sepanjang jalur Trans Sulawesi, Rivai mengakui bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat sekitar.
Namun demikian, Rivai menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas bukan merupakan kewenangan pihak Pertamina. Menurutnya, Pertamina hanya berperan sebagai penyedia dan penyalur BBM, sementara urusan lalu lintas berada di bawah kewenangan instansi terkait.
“Kami hanya penyedia BBM. Soal kemacetan dan pengaturan arus lalu lintas, itu perlu dibahas bersama dengan instansi terkait agar bisa ditemukan solusi yang tepat,” kata Rivai.
Ia juga menyampaikan bahwa salah satu faktor utama penyebab kemacetan adalah keterbatasan lahan parkir di area SPBU. Selain itu, banyak sopir truk yang enggan berpindah ke SPBU lain karena khawatir kehabisan stok. AF









