banner 728x250

Dinkes Parigi Moutong Dekatkan Layanan Kesehatan ke Pekerja

Dinkes Parigi Moutong Dekatkan Layanan Kesehatan ke Pekerja
Dinkes Parigi Moutong melaksanakan Gerakan Masyarakat Skrining Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) di sejumlah desa, Kamis (21/5/2026). Foto: IST

PARIMO, LENSA JURNAL – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terus berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat pekerja.

Salah satu bentuk implementasi dari layanan tersebut dilakukan melalui pelaksanaan Gerakan Masyarakat Skrining Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) di sejumlah desa.

banner 728x250

“Program ini menjadi bagian dari langkah Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kesadaran pekerja terhadap pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja,” ujar Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Dinkes Parigi Moutong, Ryan Mohede kepada wartawan di Parigi, Kamis (21/5/2026).

Ia pun mengatakan bahwa tujuan utama dari program tersebut menyasar berbagai kelompok usaha yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Selain menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan, pelaksanaannya juga memberikan edukasi mengenai berbagai risiko kesehatan yang dapat timbul akibat aktivitas kerja sehari-hari.

Ia menjelaskan, pelaksanaan Gerakan Masyarakat Skrining Pos UKK kali ini berlangsung di empat lokasi, yakni Pos UKK Batu Bata di Desa Bambalemo Ranomaisi, Pos UKK Petani di Desa Mertasari, Pos UKK Nelayan di Desa Lebo, serta Pos UKK Stik Bawang di Desa Bambalemo Ranomaisi.

Ia menuturkan, para pekerja yang mengikuti kegiatan tersebut diberikan edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan masing-masing. Materi yang disampaikan meliputi penggunaan alat pelindung diri, penerapan pola hidup sehat, teknik bekerja yang aman, hingga upaya pencegahan penyakit akibat kerja.

Selain itu, para peserta juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan sebagai langkah deteksi dini terhadap berbagai gangguan kesehatan yang berpotensi dialami pekerja.

“Dengan pemeriksaan itu, para pekerja diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” ungkapnya.

Ryan juga memaparkan, khusus untuk kelompok pekerja batu bata, edukasi difokuskan pada risiko gangguan pernapasan akibat paparan debu, kelelahan kerja, serta pentingnya penerapan standar keselamatan selama bekerja.

Sementara, untuk kelompok petani mendapatkan pemahaman mengenai bahaya paparan pestisida, pentingnya posisi kerja yang ergonomis, serta penggunaan alat pelindung diri saat melakukan aktivitas pertanian.

Sedangkan materi yang diberikan kepada kelompok nelayan, menitikberatkan pada keselamatan kerja di laut, pencegahan dehidrasi, penanganan kelelahan, dan pentingnya menjaga kondisi fisik selama bekerja.

“Bagi kelompok usaha stik bawang, mereka memperoleh edukasi mengenai kebersihan lingkungan produksi, keamanan pangan, serta pentingnya menjaga kesehatan selama proses pengolahan,” pungkasnya. (AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *