PARIMO, LENSA JURNAL – Pemulihan pascabencana gempa bumi dan banjir yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, belum lama ini, tidak hanya dilakukan dengan memperbaiki kerusakan pada lingkungan dan tempat tinggal warga. Tetapi juga mengembalikan kondisi mental para penyintas, khususnya anak-anak.
Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Parigi Moutong, Tri Fadli mengatakan bahwa setiap bencana yang terjadi tentu berdampak pada kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak yang mengalami langsung peristiwa.
“Pelayanan psikososial yang kami lakukan di Dusun II Desa Pombalowo, Kecamatan Parigi pada Rabu (1/7/2026) itu, ditujukan khusus bagi anak-anak. Tujuannya, untuk memberikan stimulasi positif sekaligus membantu proses pemulihan kondisi mental pascabencana. Ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap para penyintas,” ujar Fadli di Parigi, Kamis (2/7/2026).
Ia menerangkan, adapun berbagai kegiatan psikososial yang diberikan seperti bermain bersama, bernyanyi, menggambar, dan edukasi kebencanaan. Hal tersebut sebagai upaya membantu anak-anak mengurangi rasa takut, memulihkan semangat, serta menghadirkan kembali senyum dan keceriaan.
Menurutnya, anak-anak yang mengalami peristiwa bencana sering kali diperhadapkan dengan trauma dan ketakutan berlebihan. Hujan deras, suara guntur, maupun kilat kerap menjadi pemicu rasa takut karena mengingatkan pada kejadian banjir yang pernah dialami.
“Melalui layanan psikososial ini, kami mengajarkan anak-anak agar tidak terus hidup dalam ketakutan dan lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di masa mendatang. Harapan kami bersama agar bencana seperti ini tidak terjadi lagi,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, lanjut Fadli, anak-anak juga diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan. Termasuk, diajarkan langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terjadi banjir maupun gempa bumi.
Selain itu, PMI pun mengajak anak-anak untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman mereka melalui kegiatan menggambar di atas kanvas. Fadli menerangkan, melalui gambar tersebut pihaknya dapat melihat kondisi psikologis anak-anak sekaligus memahami bagaimana mereka memaknai pengalaman yang telah dialami.
“Biasanya, apabila seorang anak masih mengalami trauma, hal itu dapat tercermin dari gambar yang mereka buat. Alhamdulillah, berdasarkan hasil pendampingan kami di lapangan, kondisi mental anak-anak cukup baik,” imbuhnya.
Ia menilai bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari pendampingan yang telah dilakukan sejak awal oleh berbagai pihak. Terutama Pemerintah Daerah dan PMI yang terus memberikan edukasi serta dukungan kepada para penyintas.
Ia meyakini bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang memperbaiki kerusakan fisik, tetapi juga memulihkan harapan dan kesehatan mental para penyintas, terutama anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa.
“PMI terus berupaya untuk dapat hadir memberikan dukungan moril kepada masyarakat terdampak banjir, khususnya anak-anak. Dengan berinteraksi, bermain, dan memberikan semangat agar mereka dapat kembali ceria dan percaya diri,” tuturnya.
Ia pun menjelaskan, hingga saat ini pihaknya telah melaksanakan berbagai layanan kemanusiaan sebagai bentuk kepedulian terhadap para penyintas yang terdampak bencana. Mulai dari distribusi bantuan kebutuhan pokok, penyediaan air bersih, hingga Pelayanan Dukungan Psikososial (PSS).
“Selain memberikan pelayanan psikososial bagi anak-anak Desa Pombalowo, kami juga menyalurkan sekitar 77 paket sembako sesuai dengan kebutuhan mendesak masyarakat. Bantuan ini merupakan dukungan dari PMI Pusat dan Provinsi. Beberapa hari ke depan, layanan psikososial serupa akan kami laksanakan di Desa Lebagu, Kecamatan Balinggi dan sejumlah wilayah terdampak lainnya,” pungkasnya. (AL)









