PARIMO, LENSA JURNAL – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anuntaloko Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, saat ini menghadapi lonjakan pasien rujukan dari berbagai daerah yang berdampak pada tingginya tingkat keterisian ruang rawat inap.
Kondisi tersebut membuat sebagian pasien harus menunggu di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum memperoleh ruang perawatan. Meski kapasitas ruangan kerap penuh, pihak rumah sakit tetap memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Anuntaloko Parigi, dr. Flora mengatakan tingginya jumlah pasien yang datang setiap hari menyebabkan kapasitas ruang rawat inap kerap mencapai batas maksimal.
“Sebagai rumah sakit rujukan regional, kami menerima pasien dari berbagai daerah sehingga kapasitas ruang rawat inap sering kali penuh. Namun, kami terus berupaya dan memastikan agar pelayanan medis kepada pasien tetap diberikan secara optimal,” ujar Flora kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, RSUD Anuntaloko telah menerapkan Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (Sisrute) sebagai sarana koordinasi antara fasilitas kesehatan pengirim dengan rumah sakit tujuan. Melalui sistem ini, fasilitas kesehatan dapat mengetahui ketersediaan layanan dan ruang perawatan sebelum merujuk pasien.
Flora menjelaskan, apabila kapasitas ruang rawat inap telah penuh, maka pihaknya akan memberikan informasi kepada fasilitas kesehatan pengirim sekaligus menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit lain yang masih memiliki kapasitas, seperti RSUD Undata atau RS Madani.
“Melalui Sisrute kami sudah menginformasikan apabila ruang perawatan penuh dan menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit lanjutan seperti RSUD Undata atau RS Madani. Namun, banyak pasien dan keluarga tetap memilih dirawat di RSUD Anuntaloko karena pertimbangan jarak, biaya, serta kedekatan dengan keluarga,” jelasnya.
Ia menuturkan, keputusan pasien untuk tetap menjalani perawatan di RSUD Anuntaloko membuat ruang rawat inap cepat terisi. Akibatnya, sebagian pasien harus menunggu sementara di IGD hingga tersedia tempat perawatan.
Dalam kondisi ini, lanjut Flora, pihak rumah sakit meminta keluarga pasien untuk menandatangani surat pernyataan kesediaan menunggu di IGD sampai ruang rawat inap tersedia. Meski kerap menimbulkan keluhan karena waktu tunggu yang lebih lama, RSUD Anuntaloko memastikan seluruh pasien tetap mendapatkan pelayanan medis sesuai kebutuhan.
Ia menerangkan, pasien yang berada di IGD terlebih dahulu ditangani oleh dokter umum. Untuk mempercepat penanganan, dokter jaga di IGD juga melakukan konsultasi dengan dokter spesialis sesuai kondisi pasien. Sehingga pelayanan medis dapat diberikan lebih cepat meski pasien belum dipindahkan ke ruang rawat inap.
“Secara operasional kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik. Meskipun pasien masih berada di IGD, dokter spesialis biasanya sudah ikut menangani sehingga pasien tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya,” katanya.
Ia menambahkan, tingginya tingkat keterisian ruang rawat inap tidak terlepas dari peran RSUD Anuntaloko sebagai rumah sakit rujukan regional yang melayani pasien dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, seperti Kabupaten Poso, Morowali, dan Luwuk.
Salah satu layanan yang paling banyak menerima pasien rujukan adalah hemodialisis atau cuci darah. Layanan unggulan tersebut menjadi alasan banyak pasien dari luar daerah memilih menjalani pengobatan di RSUD Anuntaloko.
Meski menghadapi lonjakan pasien rujukan dan keterbatasan kapasitas ruang rawat inap, RSUD Anuntaloko menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan kesehatan secara optimal.
“Kami akan terus berupaya memastikan setiap pasien yang membutuhkan penanganan segera tetap memperoleh layanan medis yang cepat, aman, dan sesuai standar pelayanan kesehatan,” pungkasnya. (AL)








