PARIMO, LENSA JURNAL – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan pegunungan Desa Avolua Kecamatan Parigi Utara dan Desa Uevolo Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, masih menghadapi hambatan serius akibat keterbatasan peralatan pemadaman.
Di tengah keterlibatan ratusan personel di lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong masih mengandalkan peralatan manual berupa tangki semprot. Tercatat, mereka hanya menurunkan puluhan tangki semprot manual. Sementara, ratusan personel gabungan terlibat langsung dalam upaya pemadaman di sejumlah titik rawan kebakaran.
Sebagai langkah penguatan, BPBD Parigi Moutong mengadakan sebanyak 20 unit knapsack sprayer berupa tangki gendong pertanian guna mendukung pemadaman agar api tidak meluas. Selain itu, BPBD juga membagikan 40 dos masker kepada tim gabungan penanggulangan karhutla yang bertugas di Desa Avolua dan Desa Uevolo.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai mengatakan jumlah peralatan yang tersedia saat ini belum sebanding dengan kebutuhan personel di lapangan. Ia menyebutkan, sedikitnya 130 personel TNI terlibat langsung dalam proses pemadaman karhutla di berbagai lokasi.
“Dengan personel sebanyak itu, kebutuhan knapsack sprayer masih sangat kurang,” kata Rivai saat ditemui di Posko Penanggulangan Karhutla Desa Toboli, Sabtu (7/2/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya BPBD juga telah menerima bantuan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) berupa 50 unit knapsack sprayer. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu menutup kebutuhan operasional pemadaman karhutla secara menyeluruh.
Oleh karena itu, BPBD kembali melakukan penambahan peralatan, meskipun jumlahnya masih terbatas dan belum sepenuhnya menjawab tantangan di lapangan.
“Kami masih kekurangan. Alat yang ada belum mencukupi untuk menjangkau seluruh titik api,” pungkasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Parigi Moutong hingga kini masih sangat bergantung pada peralatan manual dan penambahan alat secara darurat. Sementara, kebakaran terus berulang setiap musim kemarau.
Tentunya persoalan keterbatasan perencanaan logistik tersebut berpotensi memperlambat proses pemadaman dan membuat petugas mengandalkan kerja fisik semata.
Selama enam hari pascakejadian, personel TNI bersama BPBD, Satpol PP, Damkar, Polri, Tagana, Manggala Agni, FPRB, MDMC, dan masyarakat setempat terus berjibaku memadamkan titik-titik api yang muncul, dengan kondisi siaga siang dan malam.
Berdasarkan data terbaru Pusdalops BPBD Parigi Moutong hingga Sabtu (7/2/2026), kekuatan petugas gabungan dalam penanganan karhutla terus mengalami peningkatan.
Adapun unsur yang terlibat meliputi 70 personel pemadam kebakaran, 6 personel Manggala Agni, 10 anggota TRC BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, 17 anggota TRC BPBD Parigi Moutong, 130 personel TNI, dan 40 anggota Polri.
Kemudian, sebanyak 12 personel Tagana Dinas Sosial Parigi Moutong, 2 petugas Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Sulawesi Tengah, dan masing-masing 2 personel dari Dinas PUPRP dan Dinas TPHP Parigi Moutong.
Selanjutnya, 8 tenaga dari Dinas Kesehatan Parigi Moutong, 6 relawan PMI Parigi Moutong, 10 anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Pairigi Moutong, serta 15 personel MDMC Parigi Moutong. (AL)







