JAKARTA, LENSA JURNAL – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan emisi gas rumah kaca global akan turun sekitar 10% pada 2035 dibandingkan dengan level 1990. Ini merupakan proyeksi penurunan pertama yang pernah diumumkan PBB, tetapi dunia masih jauh dari jalur untuk mencegah pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius sesuai komitmen dalam Perjanjian Paris satu dekade lalu.
“Untuk pertama kalinya, umat manusia mulai menekuk kurva emisi ke arah penurunan, meskipun kecepatannya masih jauh dari cukup. Kita menghadapi kebutuhan mendesak untuk bergerak lebih cepat,” kata Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), pada Selasa (28/10/2025), dikutip dari Bloomberg.
Emisi karbon telah berdampak besar terhadap kehidupan dan perekonomian, dengan kekeringan, badai, dan gelombang panas yang menewaskan ribuan orang serta menyebabkan kerugian ekonomi bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.
Tantangan utama bagi negara-negara di KTT Iklim COP30 di Brasil bulan depan adalah menjembatani kesenjangan antara tingkat emisi saat ini dan target ilmiah yang harus dicapai untuk menghindari bencana iklim.
Penurunan yang diproyeksikan PBB ini didasarkan pada komitmen negara-negara yang mewakili sekitar 80% emisi global. Namun, angka tersebut masih jauh dari pengurangan 60% pada 2035 yang dinilai ilmuwan perlu dicapai agar pemanasan global tetap mendekati 1,5°C pada akhir abad ini.
UNFCCC juga merilis NDC Synthesis Report yang merangkum Nationally Determined Contributions (NDC) atau rencana aksi iklim negara-negara. Berdasarkan Perjanjian Paris, setiap negara wajib menyerahkan NDC baru setiap lima tahun, dengan tenggat berikutnya pada 2025 ini. Namun, hingga 30 September 2025, baru 64 negara yang mewakili sekitar sepertiga dari total emisi global yang telah menyerahkan dokumen mereka.
China, sebagai penghasil emisi terbesar dunia, menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca bersih sebesar 7–10% dalam satu dekade mendatang, tetapi belum secara resmi menyampaikan target tersebut ke PBB. Sementara itu, Uni Eropa berupaya mencapai konsensus internal pada 4 November, sedangkan India belum memberikan sinyal kapan akan menyerahkan NDC terbarunya.
Beberapa negara seperti Brasil, Inggris, dan Norwegia telah memasukkan janji iklim mereka, sementara rencana Amerika Serikat yang diajukan di bawah pemerintahan Joe Biden kemungkinan besar tidak akan dilanjutkan oleh Presiden Donald Trump yang memutuskan keluar dari Perjanjian Paris.
Analisis terhadap 64 NDC tersebut menunjukkan potensi penurunan emisi sebesar 17% pada 2035 dibandingkan dengan level 2019. Jika rencana-rencana itu dilaksanakan penuh, emisi kelompok negara tersebut akan mencapai puncaknya sebelum 2030, lalu menurun tajam setelah 2035, dengan sebagian besar negara mencapai net zero pada 2050.
UNFCCC mencatat bahwa untuk pertama kalinya, sebagian besar rencana iklim mencakup seluruh sektor ekonomi dengan kualitas dan kredibilitas yang lebih tinggi. Rencana tersebut tidak hanya berfokus pada mitigasi, tetapi juga mencakup adaptasi, pembiayaan, transfer teknologi, peningkatan kapasitas, serta penanganan kerugian ekonomi akibat perubahan iklim.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, laporan tahun ini tidak menyertakan estimasi suhu global pada akhir abad, karena jumlah sampel masih terlalu kecil. Adapun pembaruan laporan dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang, dan versi baru kemungkinan akan menyertakan perkiraan suhu. Tahun lalu, PBB memproyeksikan suhu global pada 2100 akan meningkat antara 2,1°C hingga 2,8°C dibandingkan era praindustri.
Dalam sepekan terakhir, Afrika Selatan, Malaysia, dan Indonesia telah menyerahkan NDC mereka, dan lebih banyak negara diperkirakan akan menyusul menjelang dan selama KTT Pemimpin COP30 di Belém, Brasil, pada 6–7 November mendatang.
Upaya menutup kesenjangan menuju target 1,5°C menjadi salah satu ukuran utama keberhasilan pertemuan tersebut, sekaligus isu paling diperdebatkan. Negara-negara progresif seperti Uni Eropa mendorong peningkatan ambisi mitigasi iklim, sementara negara lain seperti Arab Saudi dan India mengambil posisi berlawanan.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com
