Kolaborasi Pecinta Alam Bersihkan Jalur Palu–Parigi

Kolaborasi Pecinta Alam Bersihkan Jalur Palu–Parigi
Tampak para pecinta alam di wilayah Parigi dan Kota Palu melakukan aksi bersih sampah di sepanjang jalur Trans Sulawesi Palu-Parigi, Ahad (2/8/2026). Foto: Aid Lumpati/Lensajurnal

PARIMO, LENSA JURNAL – Sejumlah organisasi pecinta alam berkolaborasi menggelar aksi Palu–Parigi Road Clean sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Palu dengan Kabupaten Parigi Moutong.

Selama empat hari pelaksanaan, mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026, para relawan telah mengumpulkan sampah seberat 845,92 kilogram.

Aksi bersih-bersih tersebut melibatkan KEPAL Tokalaka, OPA Kalibamba, LSA Gagantu Wild Indonesia, LPA Mosintomu, dan LPAP El Capitan Indonesia. Kegiatan ini juga didukung KPA Oryza Sativa serta Mapala Epy Liger Poltekkes Palu, sehingga menjadi kolaborasi lintas komunitas pecinta alam di Sulawesi Tengah.

Koordinator Aksi Palu–Parigi Road Clean, Moh. Abduh mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya volume sampah yang masih ditemukan di sepanjang jalur Palu–Parigi.

Menurutnya, aksi ini bukan sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga mengajak masyarakat membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Pembersihan dilakukan setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WITA. Titik awal aksi dimulai dari gerbang perbatasan Parigi–Donggala. Aksi ini akan berlanjut hingga pertigaan Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, dengan panjang lintasan sekitar 17 kilometer. Hingga hari keempat, relawan telah menyelesaikan pembersihan dari batas wilayah Parigi–Donggala hingga kilometer 14,” ujar Abduh.

Ia menjelaskan, seluruh sampah yang kumpulkan tersebut akan didata secara sistematis. Dimana, setiap sampah akan ditimbang, dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian diidentifikasi untuk mengetahui asal produk dan alamat produsen melalui kemasan yang ditemukan sebagai bahan penyusunan data.

“Hasil identifikasi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus ekspos bagi pemerintah kabupaten dan kota di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, dalam menyusun formulasi pengelolaan persampahan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” jelas Abduh.

Ia menambahkan, bahwa aksi Palu–Parigi Road Clean masih akan berlanjut hingga 17 Agustus 2026. Pada pelaksanaan berikutnya, panitia berencana melibatkan lebih banyak unsur masyarakat. Mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pelaku UMKM, komunitas, hingga pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA.

“Aksi ini sebagai bentuk keresahan kami terhadap banyaknya sampah yang berserakan di sepanjang jalan Trans Sulawesi Palu–Parigi,” kata Abduh.

Ia menerangkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan bersih-bersih. Namun diperlukan komitmen pemerintah, dukungan masyarakat, serta kebijakan yang berkelanjutan agar pengelolaan sampah di Sulawesi Tengah semakin baik.

“Harapannya, upaya ini membuat seluruh pemerintah di wilayah Sulawesi Tengah dapat menyusun formulasi khusus terhadap pengelolaan persampahan. Selain itu, membangun gerakan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan di jalur Trans Sulawesi, khususnya pada rute Palu–Parigi. Karena kelestarian lingkungan itu lahir dari kesadaran masing-masing individu,” pungkasnya. (AL)

Exit mobile version