PARIMO, LENSA JURNAL – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) H. Anwar Hafid menegaskan bahwa durian Parigi Moutong saat ini telah menjadi komoditas unggulan yang dikenal tidak hanya secara nasional, tetapi juga di tingkat internasional.
Pengakuan luas terhadap durian lokal tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Sulteng untuk menjadikannya sebagai identitas resmi daerah, sekaligus mengintegrasikannya dalam agenda besar Festival Teluk Tomini (FTT) pada tahun mendatang. Menurut Gubernur Anwar, setiap kali dirinya menghadiri pertemuan dengan para pengusaha dan tokoh nasional di luar Sulteng, yang pertama kali disebut adalah durian dari Parigi Moutong.
“Durian Parigi Moutong ini sudah dikenal di mana-mana. Ini aset besar yang harus kita angkat lebih tinggi,” ungkap Gubernur saat membuka pelaksanaan FTT di lokasi Eks Sail Tomini, Pantai Kayubura Desa Pelawa Baru, Kecamatan Parigi Tengah pada Kamis (20/11/2025) malam.
Dalam arahannya, Gubernur Anwar juga meminta agar penyelenggaraan FTT tahun depan disesuaikan dengan musim durian yang biasanya berlangsung pada bulan April. Ia menilai, penyesuaian jadwal tersebut akan memberikan nilai tambah, karena wisatawan dapat menikmati dua pengalaman sekaligus. Pertama, menyaksikan rangkaian festival dan kedua, merasakan langsung cita rasa durian Parigi Moutong.
“Saya sarankan event FTT digelar tepat saat musim durian. Kalau perlu, buat lagi festival di bulan April sesuai musim durian. Orang datang di Parigi harus punya alasan kuat, dan durian adalah magnetnya,” tutur Gubernur.
Ia menambahkan, popularitas durian Parigi Moutong bahkan telah menyaingi beberapa daerah penghasil durian dunia. Untuk itu, Gubernur mendorong agar durian dijadikan sebagai identitas resmi daerah berjuluk ‘Songulara Mombangu’.
“Kalau dulu durian Thailand sangat terkenal di Tiongkok, sekarang durian yang paling dikenal di sana justru dari Parigi Moutong,” imbuhnya.
Gubernur juga menyebut jika Kabupaten Sigi dikenal dengan tanaman kopi sebagai ‘emas hitam’, maka untuk Parigi Moutong, durian sebagai ‘emas kuning’. Keduanya memiliki nilai ekonomi tinggi. Hal ini sejalan dengan asta cita pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang ramah lingkungan.
“Ini bukan emas ilegal yang menggali-gali tanah dan merusak alam. Durian adalah komoditas unggul yang bisa meningkatkan ekonomi tanpa merusak lingkungan,” tegas Gubernur.
Gubernur pun menjelaskan bahwa penyelenggaraan FTT tahun ini tidak hanya menampilkan pertunjukan pariwisata, melainkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, masyarakat, dan pelaku ekonomi kreatif.
Hal itu ditandai dengan berbagai rangkaian acara seperti Gelar Budaya, Pentas Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), serta peluncuran Job Fair Kabupaten Parigi Moutong.
Ia menegaskan bahwa keberadaan perwakilan dari Kementerian Pariwisata, Kementerian UMKM, dan Kementerian Kebudayaan serta Koperasi dalam acara FTT 2025, menjadi momentum penting untuk meningkatkan perhatian pemerintah pusat terhadap potensi Parigi Moutong.
Komitmen Pengembangan UMKM dan Festival Tahunan
Meskipun anggaran daerah terbatas, Gubernur mengingatkan agar kegiatan budaya, UMKM, dan penyelenggaraan festival tidak dihentikan. Baginya, keberlangsungan FTT merupakan aset pariwisata yang harus diperkuat setiap tahun.
“Saya bangga FTT ini kembali hidup. Ini aset luar biasa. Saya berharap ke depan FTT dan Sail Tomini menjadi event tahunan yang makin besar,” ujar Gubernur.
Dengan penguatan komoditas durian sebagai ikon daerah, serta penyesuaian jadwal festival dengan musim durian, Pemerintah Provinsi Sulteng optimistis Parigi Moutong dapat menjadi pusat wisata budaya dan kuliner unggulan di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
“Durian Parigi Moutong kini bukan sekadar buah, tetapi simbol kejayaan ekonomi kreatif dan identitas daerah,” pungkasnya. (AL)
